BANDUNG – Musik bergerak dari satu ruang ke ruang lain di The Papandayan Bandung. Sabtu (3/10/2026) menjadi pembuka The Papandayan Jazz Fest (TPJF) 2026. Memasuki tahun ke-11, festival ini mengusung tema “Sound to the Soul”. Lebih dari 50 program tersebar di enam area pertunjukan. Sekitar 70 persen program berada dalam spektrum jazz dan turunannya. Sejak siang, penonton sudah berpindah mengikuti musik dari berbagai penjuru hotel. Master class Sri Hanuraga membuka program TP Stage pukul 13.00 WIB. Setelah itu, SND, Dadaks, Cinere Jazz feat. Happy Pretty, dan Yonathan Godjali Quartet bergantian. Di RON88 Stage, SFG membuka penampilan pukul 15.30 WIB. SimakDialog, Bandung Tempo Doeloe, dan Arumatala kemudian menyambung pertunjukan. SFG hadir sebagai juara The Papandayan International Online Jazz Competition (TPJC) 2026. Kelompok asal Jakarta itu merupakan juara Youth Jazz tahun ini. Sementara itu, Smoove membawa status juara Jazz Warrior dari Yogyakarta. Penampilan keduanya menjadi gambaran regenerasi yang sedang dibangun TP Jazz. SND dan Dadaks juga mempertegas ruang bagi talenta muda kompetisi tersebut. BRI Stage kemudian menawarkan warna yang semakin beragam sepanjang sore. Sea Dreams membuka panggung pada pukul 14.00 WIB sebagai pemenang ketiga Youth Jazz. Smoove tampil pukul 16.00 WIB dengan pendekatan jazz yang lebih eksploratif. Barry Likumahuwa membawa Ambon Jazz Rock pada pukul 17.50 WIB. Rieka Roslan dan Lalahuta menyusul pukul 20.30 WIB, sebelum Batavia Collective menutup panggung tersebut. Barry Likumahuwa membawa jazz bertemu karakter musikal Indonesia Timur. Permainan kelompoknya terasa sebagai perayaan ritme dan improvisasi. “Sebisa mungkin saya ingin selalu mendobrak batasan-batasan musik terutama menggabungkan nuansa-nuansa musik dari Indonesia Timur. Itu mandat budaya bagi saya,” tutur pria yang pernah merilis album Dangdut Worship pada 2019 ini seusai manggung. November depan, dia akan menggelar konser dua decade berkarya di persada musik Indonesia. Sementara itu, Rieka Roslan hadir bersama Lalahuta dengan energi yang lebih komunikatif. Kolaborasi itu mempertemukan pengalaman senior dengan warna generasi baru. Rieka seringkali mengajak penonton bernyanyi dan bergoyang bersama. “Dengan kolaborasi ini, kita semua akan joget, bernyanyi, dan bersenang-senang,” kata Rieka sebelum festival. Di panggung utama, The Gentlemen’s Club membuka malam dengan Tribute to Koes Plus. Teza Sumendra mengawali pertunjukan melalui “Hanya Untukmu” dan “Derita”. Ia kemudian menyisipkan “The Introvert” dari EP Midnight Ocean. “Hanya Untukmu adalah salah satu lagu favorit saya dari Koes Plus,” ujar Teza. Bilal Indrajaya melanjutkan dengan “Kisah Sedih di Hari Minggu” dan “Andaikan Kau Datang”. Adikara Fardy kemudian membawa “Why Do You Love Me”, “Diana”, dan “Primadona”. Ketiganya akhirnya bertemu melalui “Kapan-Kapan” sebagai penutup tribute tersebut. “Berkat lagu-lagu Koes Plus, saya akhirnya memberanikan diri bikin lagu sendiri,” tutur Bilal. Pukul 19.30 WIB, Ruth Sahanaya mengambil alih panggung utama. Kehadiran diva tersebut mengubah warna pertunjukan menjadi lebih emosional. Beberapa kali Ruth melengkingkan nada tinggi dengan kontrol vokal yang tetap terjaga. Napas panjangnya membuat sejumlah bagian lagu terdengar lebar dan penuh tenaga. Penonton kemudian memasuki fase malam dengan karakter vokal yang matang. Namun, hari pertama TPJF 2026 tidak hanya berbicara tentang musik. Momen paling emosional hadir ketika Bimbo menerima TPJF Lifetime Achievement Award. TP Jazz Management menganugerahkan penghargaan tersebut atas dedikasi Bimbo. Penghargaan itu juga mengapresiasi kontribusinya terhadap perjalanan musik Indonesia selama lebih dari lima dekade. Sam Bimbo hadir bersama Jaka Bimbo dan keluarga. Samsudin Hardjakusumah atau Sam Bimbo yang berusia 85 tahun datang menggunakan tongkat. Ia sebelumnya menjalani operasi pada kaki kiri. “Terima kasih banyak, saya terharu,” ucapnya di hadapan keluarga dan penonton. Sam juga mengenang mendiang Acil Bimbo yang biasanya hadir dengan candaan. Kini, kenangan itu terasa berbeda karena Acil telah tiada. Cerika, putri Jaka Bimbo, menyebut perjalanan Bimbo telah melintasi banyak generasi. Penghargaan tersebut menjadi penghormatan atas kontribusi Bimbo selama lebih dari lima dekade. Momen itu akhirnya menjadi pertemuan antara sejarah, keluarga, dan musik Indonesia. Bimbo bukan hanya dikenang melalui lagu, tetapi juga perjalanan panjangnya. Karena itu, penghargaan tersebut terasa lebih personal bagi keluarga dan penonton. Setelah itu, panggung utama kembali berubah ketika Diskoria dan Andien hadir pukul 21.30 WIB. Andien membuka kolaborasi tersebut melalui “Naksir” dari album Sehidup Semusik. Ia kemudian membawa “Milikmu Selalu” dan “Rindu Ini” dari periode awal kariernya. “Selamat Ulang Tahun” memberi warna berbeda dengan tema perayaan yang lebih ringan. Menjelang akhir, “C.H.R.I.S.Y.E.” mengajak penonton bernyanyi bersama. Selepas tampil, Andien mengungkapkan bahwa malam itu luar biasa. “Jajaran depan penonton saya lihat penuh Gen Milenial dan Gen X bahkan mungkin ada beberapa Baby Boomer. Gen Z malah di belakang. Tapi semua larut ikut bernyanyi, bergoyang,” tutur Andien. Diskoria memperkuat penutupan melalui medley “Berharap Tak Berpisah” dan “Sinaran”. Perpaduan elektronik, disko, dan vokal Andien membuat malam terasa semakin cair. Penonton bergerak mengikuti lagu-lagu yang sudah akrab di telinga. Setelah pertunjukan panjang sejak siang, energi panggung tetap terjaga hingga akhir. Bandung pun seolah mendapat soundtrack baru untuk malam itu. Di Tropical Garden, One Note Voices, Nakisha, dan Barong Bekasi ikut menghidupkan Mojang Jajaka Stage. Barong Bekasi tampil bersama Durcing Cimahi melalui pertunjukan bernuansa budaya. Area ini merupakan kolaborasi TPJF dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung. Pasar Jazz juga menjadi ruang pertemuan komunitas, kuliner, fashion, dan produk kreatif. Dengan enam panggung berjalan bersamaan, pilihan pertunjukan menjadi bagian dari pengalaman penonton. Hari pertama TPJF 2026 akhirnya menunjukkan wajah jazz yang tidak tunggal. Ada talenta muda, legenda, pop, disko, musik Indonesia Timur, hingga tradisi. Bimbo menghadirkan memori panjang, sementara generasi muda menunjukkan arah berikutnya. Musik Koes Plus mendapat tafsir baru melalui tiga karakter vokal berbeda. Dari siang hingga malam, Bandung menjadi ruang pertemuan lintas generasi melalui musik.
Read More...