Tunjuk.id Tunjuk.id

Hujan Bandung Mengantar Nada Terakhir TPJF 2026, dari Sinatra hingga Melly Mono

Okezone 53 menit lalu 37 3 menit baca
Hujan Bandung Mengantar Nada Terakhir TPJF 2026, dari Sinatra hingga Melly Mono
BANDUNG - Bandung kembali menunjukkan caranya sendiri menikmati musik pada Minggu (4/10/2026). Hujan sempat membasahi kota sebelum hari kedua The Papandayan Jazz Fest (TPJF) 2026 berlangsung hingga malam. Di kompleks The Papandayan Bandung, penonton berpindah dari satu panggung ke panggung lain. Sebagian mengejar musisi favorit, lainnya mencari pertunjukan baru. Enam panggung menawarkan jazz, pop, funk, elektronik, eksperimental, hingga seni tradisi. Area outdoor Tropical Garden menjadi salah satu titik awal perjalanan musik. Ranggaswara Group memadukan semangat tari dan musik Bajidoran khas Sunda dengan sentuhan jazz modern. Di Cimanuk Ballroom, 5 Petani tampil pukul 17.00 WIB. Setelahnya, Barry Likumahuwa tampil bersama pemenang The Papandayan International Online Jazz Competition (TPJC), termasuk Clay David, Rafa, Benny, dan Maximiliano Jayden. Salah satu momen penting terjadi ketika Barry berkolaborasi dengan Jayden, musisi muda asal Solo yang memainkan alto saxophone dan flute. Mereka membuka pertunjukan dengan “Jack and Bubi”, karya Barry sekitar 15 tahun lalu sebagai penghormatan kepada Jack Lesmana dan Bubi Chen. “Saya menciptakannya sebagai penghormatan untuk Jack Lesmana dan Bubi Chen yang menjadi pilar penting perjalanan jazz Indonesia,” ujar Barry. ReyHarp dan Balawan Project kemudian mempertemukan permainan harmonika dan gitar dalam eksplorasi musikal. Di area pool, Andre Dinuth Group feat. Matthew Sayersz membuka panggung pukul 16.30 WIB. Panggung berlanjut dengan Rafi Sudirman sebelum T-Five x Melly Mono menjadi penutup TPJF 2026. Sementara itu, Suagi Grand Ballroom dipenuhi penonton pada pukul 17.30 WIB untuk A Night of Frank Sinatra. Dwiki Dharmawan tampil bersama Dira Sugandhi, Dirly Dave, dan Bandung Jazz Orchestra. Format big band orchestra memberi warna baru tanpa meninggalkan karakter karya-karya Sinatra. Sebanyak 13 musisi muda membawakan Fly Me to The Moon, Summer Wind, Strangers in The Night, My Way hingga New York, New York. “Ini adalah bentuk penghormatan kepada Frank Sinatra yang pengaruhnya begitu besar terhadap perkembangan musik dunia,” ujar Dwiki. Dirly antara lain membawakan Strangers in the Night, Fly Me to the Moon dan Quando, Quando, Quando dengan gaya flamboyan. Dira kemudian menyanyikan My Way serta New York, New York. Keduanya berduet dalam Something Stupid dan The Way You Look Tonight. Dira beberapa kali melontarkan jokes berbahasa Sunda sehingga pertunjukan terasa cair. Dwiki juga spontan bercanda ketika terdengar efek ketukan di tengah jeda. “Saya kira ada tukang bakso tahu lewat,” ujar Dwiki, disambut tawa penonton. Dirly mengakui karya Sinatra menjadi tantangan tersendiri karena perbedaan karakter vokal. “Vokal Frank Sinatra bariton, aku tenor. Tantangannya lumayan juga,” katanya. Dua jam kemudian, panggung di ballroom berganti warna. Pukul 19.30 WIB, Mahalini tampil membawa cerita cinta, kehilangan dan penerimaan. Pertunjukan dibuka Overture “Sial.. Sial..”, kemudian berlanjut dengan Mati-Matian, Bohongi Hati, Melawan Restu, Kisah Sempurna hingga Bawa Dia Kembali. Penonton ikut bernyanyi bersama hampir di setiap lagu. Momen personal muncul ketika seorang lulusan Institut Seni Indonesia Yogyakarta menemui Mahalini. Penggemar itu sengaja datang ke Bandung sambil membawa skripsi berjudul “Analisis Teknik Vokal Belting Mahalini Raharja dalam lagu Kisah Sempurna”. Mahalini kemudian menandatangani sampul skripsi tersebut. “Salam buat dosen pembimbingnya ya,” tutur Mahalini disambut riuh penonton. Selepas Mahalini, Freedom Jazz Society feat. Rinni Wulandari membawa warna elektronik dan jazz. Formasi yang melibatkan Greybox, Jevin Julian, Kenny Gabriel dan Winky Wiryawan itu memang dibentuk khusus untuk TPJF 2026. Perpaduan DJ, produksi elektronik, improvisasi jazz dan vokal Rinni menunjukkan musik jazz dapat bergerak melampaui bentuk konvensional. Malam semakin larut ketika T-Five x Melly Mono tampil pukul 22.30 WIB di area pool. Mereka membuka pertunjukan dengan Madly in Love. T-Five kemudian membawakan Aku Bukan Dia, Yang Terindah dan Di Ujung Mimpi. Survivor serta Jumpin’ Jumpin’ menghadirkan warna R&B dan pop internasional. T-Five dan Melly Mono kembali melalui Cinta Semu, Malam Indah, Borju, Slow Down Baby dan Kau. Kejutan terbesar muncul ketika Melly Mono datang dari belakang barisan penonton sambil bernyanyi. Penonton di depan panggung seketika menjadi bagian pertunjukan. Batas antara artis dan audiens pun terasa menghilang. Menurut Bobby Renaldi, Founder TP Jazz Management sekaligus General Manager The Papandayan Hotel Bandung, TPJF 2026 memperlihatkan semakin kuatnya keterlibatan komunitas. “Kami melihat adanya peningkatan animo, terutama dari komunitas yang terlibat,” ujarnya. Pada akhirnya, TPJF 2026 meninggalkan lebih dari sekadar daftar penampil. Hujan Bandung mengantar pulang penonton bersama lagu, tawa, nostalgia dan cerita. Kelak, sebuah lagu yang kembali terdengar mungkin membawa mereka pada sepotong malam indah di Bandung.

Read More...

Komentar
Tulis komentar
0 karakter
^
Pengaturan Baca

Ukuran Huruf

Lebar Layout

Tema