Tunjuk.id Tunjuk.id

Gedung Kesenian Jakarta Menjadi Saksi Evolusi Batik Iwan Tirta

Okezone 1 hour ago 27 2 min read
Gedung Kesenian Jakarta Menjadi Saksi Evolusi Batik Iwan Tirta
JAKARTA — Gedung Kesenian Jakarta mencatat pengalaman baru melalui peragaan busana yang memadukan tradisi dan ekspresi kontemporer. Untuk pertama kalinya, bangunan bersejarah tersebut menjadi panggung peragaan busana. Sebanyak 50 tampilan busana pria dan wanita mengisi pertunjukan bertajuk Smerti — Iwan Tirta Runway Collection 2027. Koleksi ini mengangkat memori manusia, tempat, alam, dan kebudayaan. Batik menjadi medium untuk meneruskan warisan masa lalu melalui tafsir yang sesuai dengan zaman sekarang. Pemilihan Gedung Kesenian Jakarta bukan sekadar persoalan lokasi pertunjukan. Bangunan tersebut menyimpan perjalanan panjang seni dan budaya Indonesia. Nilai sejarah itu sejalan dengan gagasan Smerti tentang ingatan yang terus berkembang. Batik dan arsitektur kemudian bertemu dalam satu presentasi yang menghubungkan warisan dengan kreativitas masa kini. Koleksi Smerti menggali kembali motif-motif dari khazanah Iwan Tirta. Namun, motif tersebut tidak hanya diulang dalam bentuk aslinya. Perubahan skala, komposisi, repetisi, dan penempatan menciptakan perspektif visual baru. Sebagian elemen tampil utuh, sementara lainnya hadir dalam fragmen. Pendekatan ini menggambarkan bagaimana ingatan tersimpan, berubah, lalu muncul kembali dengan bentuk berbeda. Dalam koleksi ini, konstruksi busana yang terukur berpadu dengan garis lebih lembut. Pendekatan tersebut dikenal sebagai soft structured atau soft architectural. Material yang digunakan meliputi batik berbahan 100 persen katun dan Tencel™. Sutra serta denim turut melengkapi sejumlah tampilan. Perpaduan siluet, tekstur, dan material menghadirkan alternatif ekspresi batik untuk busana pria maupun wanita. CEO Iwan Tirta, Widiyana Sudirman, menyebut memori sebagai gagasan utama koleksi. “Bukan untuk mengulang masa lalu, melainkan meneruskan semangat penciptaannya dalam bentuk yang baru,” ujarnya. Pemikiran tersebut menempatkan batik sebagai karya yang terus memiliki ruang untuk berkembang. Warisan budaya tidak berhenti pada upaya mempertahankan bentuk terdahulu. Sebaliknya, kreativitas membuka kemungkinan agar nilainya tetap relevan bagi generasi berikutnya. Art Director Smerti, Shadtoto Prasetio, menerjemahkan gagasan koleksi melalui tata artistik yang merespons karakter gedung. Pencahayaan, musik, tata panggung, dan pergerakan model dirancang sebagai satu kesatuan. “Kami tidak ingin sekadar memindahkan format runway ke dalam gedung pertunjukan,” kata Shadtoto. Dengan pendekatan itu, arsitektur berperan lebih dari sekadar latar peragaan. Karakter ruang ikut membentuk pengalaman visual yang dinikmati penonton. Rangkaian pertunjukan mencapai puncaknya melalui penampilan khusus Efek Rumah Kaca. Musik menjadi bagian dari narasi yang menghubungkan busana, ruang, dan memori. Kolaborasi lainnya hadir melalui aksesori Gelap Ruang Jiwa dan tas Filo by Miwsoon. Fortuna Shoes melengkapi tampilan pria, sedangkan Naked Sol mendukung busana wanita. Make Over menangani tata rias, sementara Dewata by Monsieur Spoon menyajikan hidangan bagi para tamu.

Read More...

Comments
Tulis komentar
0 characters
^
Reading Settings

Font Size

Layout Width

Theme